Rabu, 22 Agustus 2012

SMS-an Bikin Penurunan Kemampuan Tatabahasa Remaja

Jakarta, Saling berkirim SMS bisa jadi cara termudah dan tercepat bagi semua orang untuk mengirimkan pesan kepada keluarga dan teman-temannya. Sayangnya sebuah studi baru menemukan bahwa kebiasaan ini bisa menyebabkan penurunan kemampuan tatabahasa pada remaja yang melakukannya.

"Remaja yang seringkali menggunakan adaptasi bahasa (tech speak) saat SMS-an memperoleh skor yang buruk dalam tes tatabahasa, terutama ketika remaja menulis dalam bentuk tech speak seperti gr8 (great), inisial seperti LOL (laugh out loud) atau ejaan kata seperti would yang berubah menjadi w-u-d," kata Drew Cingel, peneliti dan kandidat doktor di bidang media, teknologi dan masyarakat dari Northwestern University.

Cingel yang bekerjasama dengan S. Shyam Sundar, profesor komunikasi dan wakil direktur Penn State's Media Effects Researc Laboratory tersebut mengatakan bahwa penggunaan bahasa semacam ini bisa menghalangi kemampuan remaja untuk menggunakan kata-kata yang lebih sesuai dengan aturan tatabahasa.

Kesimpulan ini didapatkan Cingel setelah mengamati sekelompok siswa sekolah menengah di Pennsylvania yang dimintanya untuk mengerjakan tes tatabahasa. Lalu partisipan diminta menceritakan tentang kebiasaan SMS-nya seperti berapa banyak SMS yang dikirim dan diterima serta pendapat partisipan tentang pentingnya SMS-an bagi mereka.

Peneliti juga meminta partisipan untuk mencatat banyaknya adaptasi bahasa yang digunakan dalam tiga SMS terakhir yang dikirim dan diterimanya. Namun dari 542 lembar survei yang diberikan, hanya 228 partisipan yang mengembalikan kuesionernya atau sekitar 42,1 persen.

"Secara menyeluruh, ada bukti bahwa penurunan skor tatabahasa dapat didasarkan pada jumlah adaptasi bahasa yang digunakan dalam SMS yang dikirim para remaja," terang Cingel seperti dilansir dari healthcanal, Jumat (27/7/2012).

"Selain memberikan prediksi yang buruk terhadap hasil tesnya, penggunaan adaptasi bahasa dalam SMS semaca ini juga dikaitkan buruknya performa partisipan. Dengan kata lain, jika Anda mengirim SMS pada anak Anda dengan menggunakan adaptasi bahasa, dia akan menirunya. Masalahnya, adaptasi bahasa semacam ini bisa berdampak pada kemampuan berbahasa normal mereka," ungkap peneliti lain, Sundar.

Menurut peneliti, keinginan alami remaja untuk meniru keluarga dan teman-temannya sama halnya dengan ketidakmampuan mereka untuk kembali ke tatabahasa yang benar lalu keduanya mengkombinasikan diri dan mempengaruhi pilihan tatabahasa yang buruk pada remaja saat diminta membuat tulisan formal.

Sundar pun menjelaskan bahwa teknologi itu sendiri mempengaruhi penggunaan bahasa semacam ini. "Hal seperti ini wajar terjadi karena teknologi membiarkan pengungkapan berbagai ekspresi diri dan memunculkan kultur tersendiri," pungkasnya.

Studi ini baru saja dipublikasikan dalam jurnal New Media & Society.

Sabtu, 04 Februari 2012

Asthma Bronchial

DEFINISI
Penyakit asma (Bronchial asthma; Exercise-induced asthma)adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan; penyempitan ini bersifat sementara.
PENYEBAB
Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan merupakan respon terhadap rangsangan yang pada paru-paru normal tidak akan mempengaruhi saluran pernafasan. Penyempitan ini menjadi penyabab asma dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga.

Pada suatu serangan asma, otot polos dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran udara. Hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (disebut bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas.

Sel-sel tertentu di dalam saluran udara (terutama sel mast) diduga bertanggungjawab terhadap awal mula terjadinya penyempitan ini. Sel mast di sepanjang bronki melepaskan bahan seperti histamin dan leukotrien yang menyebabkan terjadinya:
- kontraksi otot polos
- peningkatan pembentukan lendir
- perpindahan sel darah putih tertentu ke bronki.
Sel mast mengeluarkan bahan tersebut sebagai respon terhadap sesuatu yang mereka kenal sebagai benda asing (alergen), seperti serbuk sari, debu halus yang terdapat di dalam rumah atau bulu binatang.

Tetapi asma juga bisa terjadi pada beberapa orang tanpa alergi tertentu. Reaksi yang sama terjadi jika orang tersebut melakukan olah raga atau berada dalam cuaca dingin.
Stres dan kecemasan juga bisa memicu dilepaskannya histamin dan leukotrien.

Sel lainnya (eosnofil) yang ditemukan di dalam saluran udara penderita asma melepaskan bahan lainnya (juga leukotrien), yang juga menyebabkan penyempitan saluran udara.
GEJALA
Frekuensi dan beratnya serangan asma bervariasi. Beberapa penderita lebih sering terbebas dari gejala asma dan hanya mengalami serangan serangan sesak nafas yang singkat dan ringan, yang terjadi sewaktu-waktu. Penderita lainnya hampir selalu mengalami batuk dan mengi (bengek) serta mengalami serangan hebat setelah menderita suatu infeksi virus, olah raga atau setelah terpapar oleh alergen maupun iritan. Menangis atau tertawa keras juga bisa menyebabkan timbulnya gejala.

Suatu serangan asma dapat terjadi secara tiba-tiba ditandai dengan nafas yang berbunyi (wheezing, mengi, bengek), batuk dan sesak nafas. Bunyi mengi terutama terdengar ketika penderita menghembuskan nafasnya. Di lain waktu, suatu serangan asma terjadi secara perlahan dengan gejala yang secara bertahap semakin memburuk.
Pada kedua keadaan tersebut, yang pertama kali dirasakan oleh seorang penderita asma adalah sesak nafas, batuk atau rasa sesak di dada. Serangan bisa berlangsung dalam beberapa menit atau bisa berlangsung sampai beberapa jam, bahkan selama beberapa hari.

Gejala awal pada anak-anak bisa berupa rasa gatal di dada atau di leher. Batuk kering di malam hari atau ketika melakukan olah raga juga bisa merupakan satu-satunya gejala.

Selama serangan asma, sesak nafas bisa menjadi semakin berat, sehingga timbul rasa cemas. Sebagai reaksi terhadap kecemasan, penderita juga akan mengeluarkan banyak keringat.

Pada serangan yang sangat berat, penderita menjadi sulit untuk berbicara karena sesaknya sangat hebat.
Kebingungan, letargi (keadaan kesadaran yang menurun, dimana penderita seperti tidur lelap, tetapi dapat dibangunkan sebentar kemudian segera tertidur kembali) dan sianosis (kulit tampak kebiruan) merupakan pertanda bahwa persediaan oksigen penderita sangat terbatas dan perlu segera dilakukan pengobatan.
Meskipin telah mengalami serangan yang berat, biasanya penderita akan sembuh sempurna,

Kadang beberapa alveoli (kantong udara di paru-paru) bisa pecah dan menyebabkan udara terkumpul di dalam rongga pleura atau menyebabkan udara terkumpul di sekitar organ dada. Hal ini akan memperburuk sesak yang dirasakan oleh penderita.